Selamat Datang! di Cafebahasa dan Budaya-Bambang Setiawan-Blog Informasi Budaya-Jangan lupa isikan Komentar Anda demi perbaikan ke depan-Kirim artikel Anda untuk diposting-bbg_cla@yahoo.com

Selasa, 31 Juli 2012

Situs Percandian Muaro Jambi

MELIRIK SITUS PERCANDIAN MUARAJAMBI DI KABUPATEN MUARO JAMBI
Perspektif Sejarah Masa Lalu, Kini, dan Sekarang

Pulau Sumatra telah memiliki sejarah peradaban yang cukup panjang. Data tertulis yang sampai kepada kita, terhitung sejak abad ke-7 Masehi telah ada institusi kerajaan yang bernama Mo-lo-yeu atau Mālayu dan Śrīwijaya. Kedua kerajaan ini hidup pada waktu yang bersamaan, namun sepanjang sejarahnya saling mendo­minasi. Pada akhirnya yang eksistensinya lebih lama adalah kerajaan Mālayu. Sebagai sebuah pulau yang telah memiliki sejarah peradaban yang cukup panjang, tentu saja banyak meninggalkan jejak peradaban. Salah satu jejak per­adaban adalah tinggalan bangunan-bangunan keagamaan yang dikenal dengan nama candi, stūpa, atau biaro. Dilihat dari kuantitasnya, tinggalan budaya yang berupa bangunan keagamaan tidak kalah dengan yang ada di Jawa. Namun jika dilihat dari kualitas dan gaya seninya, masih jauh berada di bawah Jawa. Lepas dari sudut pandang tersebut, tinggalan budaya tersebut sama pentingnya bagi penyusun­an sejarah kebudayaan. Masing-masing wilayah mempunyai kelebihan atau keisti­me­waan tersendiri.
Beberapa tempat di Sumatra yang mengandung tinggalan budaya berupa kompleks percandian, antara lain Bumiayu, Muara Jambi, Padangroco, Pulau Sawah, Tanjung Medan, Muara Takus, dan Padanglawas. Ada juga bangunan-bangunan yang berdiri sendiri tidak dalam satu kompleks percandian, misalnya Candi Jepara, Candi Lesungbatu, Candi Bukik Awang Maombiak, dan Candi Sintong. Seluruh bangunan yang dibuat dari bahan bata tersebut belum banyak dikenal masyarakat. Hanya kalangan tertentu saja, seperti arkeolog dan sejarahwan dalam dan luar negeri yang mengenalnya. Atau masyarakat di sekitar bangunan tersebut berada yang mengenalnya.Situs Percandian Muara Jambi oleh beberapa pakar arkeologi dan sejarah dihubungan dengan kerajaan Mālayu dan Śrīwijaya. Dugaan tersebut dapat saja dikemukakan karena beberapa sumber tertulis mengindikasikan ke arah itu. Karena itulah secara teoritis (teori yang dibangun berdasarkan sumber-sumber tertulis), Hasan Djafar membagi kehidupan Kerajaan Mālayu dalam tiga fase kehidupan, yaitu: